Sejarah Dibangunnya BSD City dari Hutan Karet Menjadi Kota Modern

January 01, 2020

Siapa yang tidak mengenal BSD City, kota mandiri yang kini menjadi ikon Tangerang Selatan tersebut memang begitu tersohor, bukan karena proses pembangunan kotanya yang begitu cepat tetapi juga karena luas pengembangan areanya yang sangat luas (6000 hektar), konon menjadi proyek terintegrasi terbesar di Indonesia.    

Dibalik megahnya pembangunan BSD City, tahukah Anda ternyata proses pembangunan proyek ini penuh dengan cerita menarik, mulai dari fakta bahwa dulunya BSD City adalah hutan karet yang banyak ditemukan mayat, hingga proyek mangkrak karena krisis ekonomi. 

Nah, bagi Anda yang ingin mengetahui bagaimana sejarah pembangunan kota mandiri BSD City, berikut ini adalah ulasannya :     

BSD City Dulunya Adalah Hutan Karet

Pada tahun 1980-an, dulunya kawasan Serpong merupakan hutan karet yang tidak terawat, daerah itu jauh dari kawasan hunian, jalannya tidak beraspal, becek serta tanpa lampu penerangan. Ketika malam menjelang, daerah ini menjadi begitu gelap gulita, bahkan di sana sering ditemukan mayat korban kejahatan.    

Dialah Ir. Ciputra yang menangkap kawasan Serpong sebagai daerah yang menjanjikan untuk pengembangan properti. Di sana, sejak tahun 1984  di bawah bendera Ciputra Group dirinya membangun sebuah kota mandiri yang diberi nama Bumi Serpong Damai. Sejak pertama kali diluncurkan, Bumi Serpong Damai memang sudah dikonsepkan sebagai sebuah kota mandiri yang tidak hanya membangun pemukiman, tetapi juga pusat pendidikan, pusat perbelanjaan hingga perkantoran.    

Pelan tapi pasti akhirnya kawasan Bumi Serpong Damai terus berkembang, akses jalan pun mulai dibuka, yang tadinya gelap gulita akhirnya berubah menjadi area pemukiman modern yang dapat dijadikan solusi atas menggilanya harga rumah di Jakarta. Untung nya saat itu, sudah dibangun Jalan Tol Kebon Jeruk-Tangerang-Merak, jalan bebas hambatan ini lah yang mendorong penjualan rumah di Bumi Serpong Damai.         

Berubah Nama Menjadi BSD City 

Sayangnya perkembangan pembangunan proyek ini harus terhenti, karena tahun 1997 Indonesia mengalami krisis ekonomi yang berakibat kepada mati surinya bisnis properti tanah air. Akhirnya untuk  menyelamatkan proyek, Sinar Mas mengakuisisi Bumi Serpong Damai dan mengganti namanya menjadi BSD City. 

Penggantian nama ini ternyata tidak hanya terjadi pada nama kota mandirinya saja, tetapi juga seluruh cluster perumahan yang dibuat oleh Sinar Mas Land, seperti Visana at The Savia, Greenwich Park, Provence Suites, hingga klaster Tabebuya. Perubahan nama ini memang merupakan strategi dari pengembang, guna menciptakan sebuah  brand image yang mewah dan modern.     

Sinarmas Land Jadikan BSD City Sebagai Kota Modern

Dibawah pengelolaan Sinar Mas Land, kini BSD City menjelma menjadi kota modern yang memiliki berbagai fasilitas lengkap, mulai dari pusat pendidikan berskala internasional (Apple Tree School, Bina Nusantara International School, Deutsche International School, Jakarta Nanyang School, Sinarmas World Academy, Al-Azhar), pusat perbelanjaan (AEON Mall, QBIG BSD City, ITC BSD, BSD Junction). Pusat perkantoran (Green Office Park, Digital Hub dan lain-lain).         

Tidak hanya itu, kawasan BSD City ini juga dilengkapi dengan akses transportasi yang sangat lengkap, seperti adanya bis gratis, commuter line, hingga Tol BSD-Bintaro-Pondok Indah-TB Simatupang.